Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olah Raga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

PSSI Kecam Keinginan La Nyalla Bentuk Timnas Tandingan

Bola.net - Rencana PSSI versi KPSI untuk membentuk Tim Nasional Indonesia tandingan, mendapat kecaman dari anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Bob Hippy.

Menurut Bob, bila ingin membentuk Timnas, harus melalui PSSI di bawah pimpinan Djohar Arifin, karena FIFA dan AFC masih mengakui kepemimpinan Djohar sebagai ketum PSSI yang legal.

"Semua pemain dan pelatihannya harus dari PSSI, harus lewat PSSI," tegas Bob seperti yang dilansir dari Mediasepakbola.com.

"Karena PSSI pimpinan Pak Djohar-lah yang diakui oleh FIFA dan AFC," tambah Bob yang juga Koordinator Tim Nasional.

Ditambahkan Bob, jika Ketua Umum PSSI-KPSI, La Nyalla Mahmud Mattalitti ingin membentuk Timnas diakui, maka harus ada di bawah kendali PSSI. Kalau tidak, tentu saja Timnas pimpinan La Nyalla, tidak akan bisa ikut berkompetisi di even internasional.

"Pemain-pemainnya dikasih dulu ke PSSI. Dan mereka bermain di bawah kompetisi resmi PSSI pimpinan pak Djohar," jelas Bob.

"Jika mereka mau buat segala macam soal Timnas, mereka tidak akan bisa bermain di kompetisi internasional. Mereka pasti akan terganjal, karena PSSI pimpinan pak Djohar adalah yang sah," pungkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, setelah terpilih menjadi Ketum PSSI di Kongres Luar Biasa yang digelar oleh Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI), La Nyalla melakukan manuver dengan berencana untuk membentuk Timnas baru, dan yang akan menjadi pelatihnya adalah, mantan pelatih Timnas Alfred Riedl dan Rahmad Darmawan.

"Kami akan bentuk Timnas," ujar La Nyalla.

"Timnas akan kami siapkan terus, jika sewaktu-waktu PSSI tidak siap bisa memakai Timnas kami. Tapi dengan satu catatan, yang mengatur adalah kami sendiri," tambahnya.

"Riedl dan RD sudah pasti akan menangani Timnas Senior dan Timnas U-23 yang akan kami bentuk. Nanti Pak Rahim Soekasah (Waketum) yang akan menangani semua kesiapan timnas," tutupnya.  (meds/end)

Selasa, 21 Februari 2012

Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI)

[caption id="attachment_909" align="aligncenter" width="300" caption="Ketua Pengprov DKI Hardi Hasan (kiri) dan Ketua KPSI Tonny Apriliani."][/caption]

Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI) akan menggelar kongres luar biasa (KLB) dalam waktu yang bersamaan dengan waktu penyelenggaraan kongres tahunan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), 18 Maret mendatang. KLB versi KPSI akan digelar di Jakarta, sementara kongres tahunan akan digelar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Ya, memang dimajukan menjadi 18 Maret. Hal ini kami lakukan karena permintaan ’voters’," kata Ketua KPSI, Tony Apriliani, saat dikonfirmasi dari Jakarta, Minggu (19/2/2012).

Sebelumnya, KPSI mengagendakan penyelenggaraan KPSI pada tanggal 21 Maret dengan agenda memilih Ketua Umum, Wakil Ketua Umum dan anggota Komite Eksekutif PSSI. Tony mengatakan, KPSI sudah menyebar sekitar 77 undangan untuk pemilik suara sah, Sabtu (18/2/2012), untuk memenuhi persyaratan
statuta yang menyebutkan, undangan harus dikirim satu bulan sebelum kongres berlangsung.

Para calon peserta ini sesuai dengan data Kongres Bali dan Kongres Solo mulai dari pengurus provinsi (pengprov), klub Indonesia Super League, Divisi Utama, dan klub Divisi I, II, III yang turun dikompetisi versi PT Liga Indonesia.

"Peserta yang diundang benar-benar hasil Kongres Bali dan Solo. Yang diundang juga sesuai dengan amanat rekonsiliasi dari Menpora dan KONI," kata anggota Komite Eksekutif PSSI yang baru saja dilengserkan itu.


Persiapan PSSI

Sementara itu, PSSI sendiri baru menetapkan pemilik suara sah yang akan diundang di Kongres Tahunan PSSI dalam rapat Komite Eksekutif, Sabtu (18/2/2012).

Pemilik suara yang diundang meliputi 33 pengprov PSSI, 12 klub Indonesia Premier League, 16 klub Divisi Utama, 14 klub Divisi I, 12 klub Divisi II, dan 10 klub Divisi III. Klub yang diundang adalah yang bertanding dikompetisi yang dikelola PT Liga Prima Indonesia Sportindo.

Menurut Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, pihaknya memilih Palangkaraya sebagai tuan rumah kongres tahunan karena dinilai telah siap dalam pelaksanaan dan didukung pula oleh masyarakat dan Gubernur, selain dengan tujuan untuk mengenalkan daerah lain di Indonesia.

Sumber : ANTARA

Selasa, 13 Desember 2011

RESMI: Rahmad Darmawan Mundur.!!!



 

 

 

 

 

Pelatih Tim Nasional (timnas) U-23, Rahmad Darmawan, hari ini melayangkan surat pengunduran dirinya sebagai pelatih timnas U-23 yang ditujukan kepada Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PSSI.

Surat pengunduran diri pelatih yang akrab disapa RD itu diantar ke PSSI oleh Eddy Syah Putra, sahabat RD yang juga merupakan agen pemain di Indonesia, dan diterima oleh Sekretaris dari Ketua Umum PSSI.

Mengenai alasan mundurnya RD dari posisinya sebagai pelatih Tim Garuda Muda yang terhitung mulai hari ini, disebutkan oleh Eddy adalah karena mantan pelatih Persija Jakarta itu merasa gagal memenuhi ekspektasi masyarakat Indonesia yang menginginkan Emas SEA Games dari cabang sepak bola.

"Intinya beliau merasa gagal mendapatkan medali emas sesuai ekspektasi masyarakat sepak bola Indonesia. Itu yang paling dirasakan beliau," ujar Eddy ketika ditemui wartawan di kawasan Gelora Bung Karno Senayan, Selasa (13/12).

Mengenai adanya alasan lain dibalik pengunduran diri itu, termasuk adanya kemungkinan melatih klub seperti yang dirumorkan, Eddy mengatakan, "Beliau tidak mengatakan apa-apa soal mau melatih di mana, beliau cuma sampaikan kalau beliau mau menenangkan diri dulu. Mengenai alasan lain, teman-teman bisa menghubungi beliau langsung."

Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS)



[caption id="attachment_902" align="aligncenter" width="280" caption="Peserta IPL"][/caption]

Suporter mungkin terbelah perhatiannya dengan dua kompetisi yang berlangsung saat ini. Tapi dijanjikan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin, Indonesian Premier League (IPL) akan berjalan bersih.

"Yang bisa kami janjikan dari IPL adalah tidak ada rekayasa hasil pertandingan atau pengaturan skor. Yang ada adalah bermain sebaik mungkin untuk mencari poin. Kita berjanji IPL akan bersih dan fair play."

Hal itu dikatakan Djohar menjawab pertanyaan detikSport dalam acara penandatanganan kerja sama antara PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), MNC Group, dan PSSI di Menara Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (13/12/2011).

"Wasit-wasit pun akan merasa nyaman dengan keadaan sekarang, karena mereka dibayar oleh pihak PT. Selama ini mereka dibayar oleh tim tuan rumah, dan itu yang mereka takutnya menjadi beban," tambah Djohar.

Seperti diketahui, saat ini masyarakat dihadapkan pada dua kompetisi. Indonesian Super League (ISL), yang dikelola oleh PT. Liga Indonesia yang dipimpin Joko Driyono, juga bergulir walaupun telah dinyatakan ilegal oleh PSSI.

Selasa, 22 November 2011

Persib 1933 tak akan Dijual

Senin, 21/11/2011 14:16 WIB
Jika Suatu Saat Jadi Tim Besar, Persib 1933 tak akan Dijual
Oris Riswan Budiana - detikBandung

Bandung - Meski baru sebatas wacana, Persib 1933 tidak akan dijual ke pihak atau daerah lain jika nanti sudah terbentuk. Sebab Persib 1933 kepemilikannya nanti ada di tangan mantan pemain Persib, PS (Persatuan Sepakbola) eks anggota Persib, serta masyarakat.

Karena Persib 1933 digagas mantan pemain dan PS, maka ada tanggung jawab moral yang diemban yakni membina dan mengarahkan Persib 1933 agar berprestasi.

"Kita tidak menjual Persib 1933 meski suatu saat jadi tim besar. Kepemilikan Persib 1933 tidak akan kemana-mana. Kita punya tanggung jawab moral sebagai mantan pemain dan PS untuk memajukan sepakbola Bandung dan Jabar," kata mantan pemain Persib era 1980-an Bambang Sukowiyono.

Hal itu dikemukakan Suko, sapaan akrabnya, saat ditemui di Sekretariat PSSI Jabar, Jalan Lodaya, Senin (21/11/2011).

Disinggung apa jaminan bahwa Persib tidak akan dijual ke pihak lain seperti Pro Duta, Suko menjawabnya dengan beberapa alasan.

"Selain membuat akta, kita akan buat segala ketentuan dan aturan agar Persib 1933 ini tidak pindah ke pihak atau daerah lain. Tujuan kita kan jelas, untuk menampung potensi sepakbola Bandung dan Jabar," tuturnya.

Salah satu keyakinan itu berdasar, karena Persib 1933 digagas para mantan pemain yang tak perlu diragukan lagi kualitas dan loyalitasnya bagi Persib. Misalnya Ajat Sudrajat, Encas Tonif, Maxi Timisela, hingga Mustika Hadi.

"Mereka orang-orang yang tidak perlu diragukan. Selama ini mereka yang membesarkan Persib. Mereka punya loyalitas, bahkan kecintaan yang sangat besar bagi Persib," paparnya.

Suko mengatakan, saat ini pihaknya masih mengurus segala keperluan dan syarat untuk berdiri sebagai sebuah klub. "Termasuk soal pendanaan, kita juga tengah menjajaki dengan beberapa pihak," ucapnya.

(ors/ern)

Rabu, 09 November 2011

Stadiun Utama Sepakbola (SUS) Gedebage

photo:detik.bandung

Target finis pembangunan Stadiun Utama Sepakbola (SUS) Gedebage ini pada akhir 2012 mendatang. Anggaran membangun stadion megah ini hinggaselesai menghabiskan dana sekitar Rp 600 miliar.
Stadiun Utama Sepakbola (SUS) Gedebage bakal menjadi stadion berkelas internasional yang berlokasi di Kota Bandung. Hingga kini proses pembangunan SUS Gedebage baru rampung 43 persen.


BANDUNG, (PRLM).- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar dipastikan akan membantu anggaran untuk pembangunan Stadion Utama Sepakbola (SUS) Gedebage. Bahkan Pemprov berkomitmen pembangunan SUS Gedebage selesai pada tahun 2012.


Kepastian itu didapat setelah, Sekretaris Daerah Kota Bandung Edi Siswadi di diundang Gubernur Jawa Barat untuk membahas masalah SUS Gedebage pada Rabu (9/11).


Menurut Edi, dalam pertemuan tersebut sekaligus memberi kabar menggembirakan dari Provinsi Jawa Barat mengenai bantuan pembiayaan SUS Gede Bage. “Setelah terseok-seok tentang kepastian bantuan dana dari pemprov, kini sudah ada titik terang. Kini sudah ada semangat yang luar biasa dari Pak Gubernur untuk menuntaskan SUS Gedebage,” ujar Edi kepada wartawan di sela-sela acara program Percepatan Pembangunan Kelurahan Bermartabat (P2KB) di Kawasan Cibaduyut, Rabu (9/11).


Dikatakan Edi, pihak Pemprov Jabar telah menyetujui mengenai sharing pembiayaan dengan Pemkot Bandung. “Niat Walikota dan Gubernur ingin tuntas pada 2012 dan bisa digunakan. Itu semua atas sharing pembiayaan bersama,” katanya.


Namun disinggung mengenai dana yang akan dikucurkan Pemprov Jabar, Edi mengaku belum mengetahui besarannya. “Formulasi angkanya belum ketemu, paling silahkan bisa dicek ke Dewan (DPRD) untuk mengetahui jelasnya,” ujar Edi.


Anggaran yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan seluruhnya ialah tinggal Rp250 miliar. “Mudah-mudahan porsi bantuannya lebih besar Provinsi,” ujarnya. Belum diketahui besaran bantuan yang digelontorkan Pemprov pun membuat Pemkot belum menentukan besaran suntikan dana bagi SUS Gedebage.


Hanya saja Edi mengungkapkan dengan adanya komitmen bersama itu, pihaknya optimis pembangunan SUS Gedebage tersebut bisa tuntas pada 2012 mendatang. “Yang paling penting kan semangat untuk menuntaskan pembangunan SUS Gedebage ini sudah ada. Dan sekarang sepakat proyek SUS Gedebage diselesaikan hingga tahun 2012,” katanya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi terhambatnya masalah dana, Pemkot Bandung pernah mengupayakan mengirimkan surat kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga serta ke DPR RI terkait permohonan bantuan keuangan untuk pembangunan Stadion Utama Sepakbola (SUS) Gedebage. Dilayangkannya surat permohonan dengan harapan proses pembangunan SUS Gedebage bisa rampung pada 2012 mendatang sesuai dengan jadwal sebelumnya.

Walikota Bandung Dada Rosada mengungkapkan surat tersebut dilayangkan sebulan lalu dengan harapan bisa memperingan beban Pemkot Bandung dan juga Pemprov Jabar. “Kita sampaikan surat permintaan bantuan kepada Kemenpora dan juga DPR RI sekitar satu bulan lalu, namun sampai sekarang belum ada tindaklanjut mengenai surat tersebut,” kata Dada beberapa waktu lalu.

Dada pun menyebutkan pada surat tersebut meminta bantuan sekitar Rp100 miliar agar target bisa tercapai pembangunan stadion bertaraf internasional. “Bila SUS Gedebage ini terwujud bukan hanya nama Kota Bandung saja yang harum, juga Pemprov Jabar bahkan Indonesia pun terbawa,” ujarnya. (A-113/das)***

Rabu, 28 April 2010

Presiden Minta Viking dan Jakmania Berdamai

Bandung, (PR). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menaruh perhatian pada perselisihan antara pendukung Persib, Viking, dan The Jakmania, julukan suporter Persija.Yudhoyono mengharapkan, perselisihan kedua kubu dan perselisihan antar suporter lainnya di Indonesia yang sering kali terjadi, dapat segera diakhiri.


“Keinginan SBY ini diungkapkan secara langsung kepada saya ketika beliau berkunjung ke Bandung Barat, Minggu (25/4) lalu,” kata kepala Staf Garnisun (Kasgar) Bandung Marsekal Pertama Wahyudin Karnadinata pada diskusi dan silahturahmi bersama pihak kepolisian, manajemen Persib, dan bobotoh Persib di Aula Polwiltabes Bandung, Jln. Merdeka Kota Bandung, Senin (25/4) malam.


Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kasgar Jakarta untuk memfasilitasi dan mempertemukan perwakilan Viking dan Jakmania. Perselisihan kedua pihak ini memang bukan hanya terjadi di dalam stadion. Di luar stadion pun, kedua pendukung selalu menyerukan permusuhan. Hal inilah yang mungkin menjadi perhatian Presiden.


“Kericuhan sudah seharusnya dihentikan. Sebagai warga negara yang beragama dan berlandaskan Pancasila harusnya bisa bertindak lebih baik, santun dan saling berdamai, “katanya. Sementara Ketua Viking Heru Djoko menyambut baik harapan Presiden tersebut. Pihaknya akan segera menyoalisasikan dan mendiskusikan rencana itu dengan bobotoh lainnya. “Secara pribadi saya menyambut baik upaya perdamaian. Namun, itu harus dibicarakan dulu dengan teman-teman yang lain karena masalah itu masih menimbulkan pro dan kontra, “tutur Heru.


Ketua Harian Jakmania Larico Ranggamone yang dihubungi secara terpisah, mengatakan, pihaknya sudah memiliki iktikad baik untuk berdamai dengan Viking. Menurut dia,  upaya perdamaian juga sudah beberapa kali dilakukan saat Persija masih ditangani I.G.K Manila. “Kami selalu berupaya untuk berdamai, tidak hanya dengan bobotoh, tapi dengan suporter lainnya juga kami selalu siap berdamai demi kemajuan sepak bola nasional, “katanya.


Larico mengungkapkan, perdamaian antar suporter pasti akan terjadi secara bertahap. “Suporter pasti bisa berdamai, Cuma butuh waktu. Sebuah perdamaian itu harus jadi pekerjaan rumah bersama, “ucap Larico. (A-190)***   

Sabtu, 27 Februari 2010

Bobotoh Salehah di Tribun Timur

Bukan Hanya anak muda saja yang eksis dalam dunia persepakbolaan. Kelompok ibu-ibu di Jl. Desa RW. 03 dan RW. 04. Kiaracondong, Kota Bandung, tidak mau ketinggalan dalam euforia mendukung Persib Bandung dalam setiap laga kandangnya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kab. Bandung.


Namun bedanya, mereka tidak melakukan konvoi sepeda motor yang identik dilakukan bobotoh menuju Soreang. Mereka menyewa tiga unit angkutan umum jurusan Kebon Kalapa-Binong untuk mengantarkan sekitar 45 orang ibu-ibu ke stadion pulang pergi.


Ibu-ibu itu tidak kalah meriahnya dalam mendukung tim asuhan Jaya Hartono itu. Sealain kostum, syal, dan topi bernuansa biru menjadi atribut wajib, mereka pun selalu membawa perbekalan layaknya sedang rekreasi. Amunisi yang dibawa mereka yaitu nasi timbel komplet, rujak mi, dan pepes ikan peda yang siap disantap di singgasana kursi tribun timur.


Hal itu diakui Anin (55) yang dipercaya sebagai juru bicara ibu-ibu tersebut, ketika ditemui di lokasi, Selasa (23/2). Menurut dia, apabila Persib akan bertanding, persiapan seperti berbelanja bahan-bahan ke pasar, dilakukan sedari pagi. “Pulang dari pasar, ibu-ibu teh pada nyambel, lalu janjian kumpul tiga jam sebelum pertandingan. Kalau yang punya anak kecil sih biasanya dibawa sja, jarang dititip-titip karena mayoritas tetangga juga pada pergi ke stadion, “tutur ibu rumah tangga itu.


Setibanya di Stadion, kata ibu tiga anak itu, mereka menempati tribun timur. Tempat nya nyaman, bisa melihat cakupan pergerakan kedua tim dengan leluasa. Selain itu, meski pun hujan deras mengguyur stadion, dandanan mereka masih tetap aman.


Selama ini, nenek lima cucu itu dan kawan-kawan telah difasilitasi oleh manajer Persib, Umuh Muchtar. Umuh selalu menyediakan tikey tribun timur dan angkutan gratis. Saking nyamannya di tribun timur, tiket tribun timur sudah menjadi permintaan tetap mereka dan selalu dipenuhi oleh Umuh. Jika diberi tiket tribun lain, mereka terkadang menolak dan memilih tidak berangkat ke stadion. “Lebih rame dan asyik di tribun timur, “ujarnya.


Anin mengatakan semua lagu yang umumnya dinyanyikan bobotoh di stadion, terutama di tribun timur, dihapal didalam ingatan mereka. “Pokona mah ngagorowok sepuasnya. Kalau Persib menang, kami senang. Tapi mun kawon jadina leuleus,” kata wiwi (48) menimpali.


Di balik kecintaannya kepada tim “Pangeran Biru” itu, bukan berarti Wiwi dan Anin menelantarkan kepentingan lainnya. Keluarga dan pengajian bagi ibu-ibu itu tetap menjadi prioritas.


Enan (56) yang saat itu bersama bobotoh ibu-ibu lainnya menambahkan, selama Persib main tidak pernah bentrok dengan jadwal pengajian rutin ibu-ibu. Pengajian biasanya dilaksanakan di pagi hari sepulangnya dari pasar. Dengan demikian jadwal pertandingan Persib tidak pernah mengganggu aktivitas keagamaan mereka.


“Kami kalau nonton harus dengan seizin suami. Enggak langsung pergi. Dan Alhamdulillah mereka mengizinkan dan terkadang suka ikut juga tapi naek motor, enggak bareng naek angkot, “ungkapnya. (Novianti Nurullia/”PR”)***

Jumat, 08 Januari 2010

Viking vs Jakmania

      Versus        

Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.


Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduany...a bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.


Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.


Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania. Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah. Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?


Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi. Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka. Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.


Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia, memiliki kreatifitas tinggi, terbukti dengan julukan “Bandung kota mode, musik, dan seniman” (bahkan the jak pun belanja ke Bandung), dengan the jak yang memiliki title kota ibukota. Entah kapan ini berakhir…


Menarik sekali membahas pertemuan Persib dan Persija karena dua klub ini merupakan dua klub legendaris dan memiliki sejarah besar sejak zaman Perserikatan dulu. Aroma klasik dan dendam selalu mewarnai pertandingan ini. Mungkin tensi pertandingan ini setara dengan Inter vs Juventus di Serie-A atau Barcelona vs Real Madrid di La Liga.


Berbicara tentang klub, tentu tak lepas dari suporter. Ini yang cukup menarik. The Jak dan Viking sejak dulu selalu berseteru di dalam dan luar lapangan. Teror kepada pemain Persib dan Persija selalu terjadi setiap kedua tim itu bermain di Bandung ataupun Jakarta. Bentrokan antar kedua kubu acapkali terjadi. Bagaimana awal mula perseturuan kedua kubu itu berasal?? Ada beragam versi. Baca aja komen-komen di bawah. Saya juga bingung jadinya. Viking menyalahkan The Jak, The Jak menyalahkan Viking.


Hmmm.. apakah hanya Viking musuh The Jak? Setelah saya “berjalan-jalan” di dunia maya ternyata bukan hanya Viking yang membenci The Jak. Bonek, La Viola, Persipura mania, kabomania, bahkan North Jak yang sekota dengan The Jak pun sangat membenci suporter oranye itu.. Mungkin ini salah satu alas an viking membenci the jak?? Bisa dibilang musuh the jak sahabat viking, sahabta The Jak berarti musuhnya Viking.


Ditambah lagi ada film Romeo-Juliet yang kontroversial justru memperparah permusuhan The Jak dan Viking. Patutkah Kebencian Ini terus ada??? Rasanya memang susah menghapuskan luka dan dendam yang sudah ada. Memang permusuhan itu harus tetap ada tapi hanya sebatas di lapangan. Lihatlah Barcelonista dan Madridista, permusuhan mereka hanya di lapangan atau pun sebatas di website, hanya saling ejek. Tak pernah ada bentrok fisik, suporter bisa datang ke Madrid atau Barcelona. Tak pernah ada bentrokan. Atau lihat antara Milanisti dan Interisti. Saat Milan tak lolos Liga Champions, Interisti sangat puas dan mengejek AC Milan. Saat musim ini Milan tanpa gelar, Interisti membentangkan spanduk Milan Merda (merda= ejekan bahasa Italia) dan juga Zero Tituli (nol gelar) untuk mengejek Milan bukan mengejek Milanisti. Tapi mereka tetap bisa hidup rukun dalam satu kota. Bahkan saat derby berlangsung jarang sekali sada bentrokan. Kedua suporter bisa menonton dengan tenang.


Mengapa begitu? Karena di luar negeri berbeda dengan di sini. Di saana yang dibenci klubnya, kalo di sini yang dibenci suporternya. Interisti membenci AC Milan dan Juventus tapi tidak membenci Milanisti dan Juventini. Bisa diliat di FB pun ada grup anti Juventus dan antiMilan bukan anti Milanisti ataupun anti juventini.


Kalo di kita yang dibenci lebih pada suporternya bukan pada klubya. Ada grup antiViking, anti Jakmania. Bukan anti Persija atau anti Persib.


BACA JUGA VERSI YANG INI:http://nobe-indonesia.blogspot.com/2010/04/viking-vs-jakmania-versi-2.html