Selasa, 22 Januari 2013
” KETIKA CINTA TAK BERJODOH “
Senin, 21 Januari 2013
Kuliner, Gadis, dan Alam Endah Kekayaan Tatar Sunda
Sabtu, 05 Januari 2013
Doel Sumbang, memprotes hilangnya mata pelajaran Bahasa Sunda.
VIVAnews - Kurikulum Pendidikan Nasional 2013 mendapat banyak kecaman. Salah satu kecaman datang dari penyanyi asal Jawa Barat, Doel Sumbang, yang memprotes hilangnya mata pelajaran Bahasa Sunda.
"Mau dibawa ke mana sebuah suku bangsa, bila bahasanya punah. Pemimpin Jawa Barat yang mendukung kurikulum ini harus diturunkan," kata Doel Sumbang saat pertunjukan 'Malam Dongdang 5' di gedung pertunjukan legendaris majestic Bandung, Rabu 3 Januari 2013.
Ia mengatakan Jawa Barat bukan hanya butuh gubernur, tapi butuh pemimpin. "Gubernur cuma orang yang gemar umbar janji banyak hal di banyak tempat. Pemimpin adalah tauladan yang membangun dan menjaga tradisi," katanya di hadapan pasangan calon gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masuki.
Doel sangat kahawatir dengan mulai terkikisnya banyak budaya terutama Bahasa Sunda. Kekhawatirannya bertambah ketika banyak kebijakan dari tingkat pusat hingga daerah yang justru semakain mengucilkan sebuah tradisi budaya. Uji publik yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan mengungkap, kurikulum baru meniadakan muatan bahas lokal dalam materi pendidikan.
Ia secara pribadi menolak semua upaya pengucilan nilai tradisi dan budaya. Doel mengatakan akan melakukan perlawanan sesuai kemampuannya dalam menolak kebijakan ini.
"Salah satu perlawanan, saya bikin lagu Sunda terus tidak peduli laku atau tidak. Saya terus berkarya bukan cari untung. Saya berkarya karena saya tidak ingin bahasa sunda punah," katanya.
"Mau jadi suku apa orang Sunda kalau bahasanya punah. Terserah orang mau bilang apa, minimal saya yang akan menjaganya. Saya yakin banyak seniman dan masyarakat sunda termasuk suku lain yang sepakat dengan saya," katanya.
Minggu, 04 November 2012
Dimana Diri Anda?
Ketika yang lain sibuk dengan kebaikan, where are you?
Ketika orang senyum ramah dan bersikap respek pada Anda, spontan Anda akan membalas dengan senyuman, respek dan merasa bahagia!
Ketika orang berbicara ketus, sikap menghina,
Anda pun membalas dengan ketus, balik menghina dan timbulah sakit hati!
Anda telah membiarkan orang lain menentukan sikap Anda.
Anda menjadi baik karena orang baik pada Anda.
Anda menjadi jahat karena orang menjahati Anda.
Anda jujur karena lingkungan jujur, Anda licik karena lingkungan licik, Anda berjudi karena orang lain berjudi.
Anda beramal karena orang lain beramal
Anda baik bukan karena Anda benar benar baik tapi karena orang-orang disekitar Anda yang baik.
Anda kejam bukan karena Anda jahat tapi karena orang-orang disekeliling
Anda yang kejam lalu Anda ikut menjadi kejam.
Dimana diri Anda?
Dimana kesadaran dan kepribadian Anda?
Orang yang masih terombang-ambing dipengaruhi oleh lingkungannya adalah orang yang tidak mempunyai kepribadian, orang lainlah yang menentukan kepribadian Anda.
Anda tidak punya sikap, lingkungan yang memberi Anda sikap.
Anda tidak punya pilihan, Lingkunganlah yang
akan memilihkannya untuk Anda.
Anda tidak menjadi tuan bagi diri Anda, orang lain dan lingkungan yang menjadi tuan atas diri Anda.
Inilah bedanya kita dengan orang bijak.
Orang bijak melakukan kebaikan bukan karena ..
dunia baik padanya.
Orang bijak melakukan kebaikan walaupun dunia menjahatinya.
Selasa, 18 September 2012
C.I.N.T.A: Cerita Indah Namun Tiada Arti, Really?
Bila kamu sedang putus cinta (dari sang pacar tentunya), maka dunia yang tadinya seindah dalam lukisan akan menjadi abu-abu tak berwarna. Cinta yang sebelumnya sangat diagungkan akan sekejap mata akan berubah menjadi objek cacian.
Dan bertebaranlah playboy-playboy cap kadal yang suka mengatakan cinta kepada wanita. Ia tahu wanita adalah makhluk yang senang dipuji dan diperhatikan (sepertinya tidak semua, semoga).
Tidak akan lagi aku mengenal cinta. Tidak akan lagi aku mau berhubungan dengan pria. Semua pria sama. Sama-sama tidak punya perasaan, selalu mempermainkan wanita.
Wuihh dahsyat sekali kata-katanya. Seakan-akan ada wonder woman baru yang bermunculan dan merasa tidak membutuhkan pria sama sekali. Padahal di lain pihak, masih banyak wanita yang sedang menanti pangeran impiannya hadir. Padahal sejatinya wanita membutuhkan tempat bersandar. Ya, sehebat apapun wanita secara fisik.
Jadi siapa yang patut disalahkan dengan fenomena seperti itu?
Kemudian menyebarlah kepanjangan dari kata cinta yaitu cerita indah namun tiada arti. Hmmm, really?
Jika cinta itu berwujud, ia pasti akan marah besar. Menjadi kambing hitam akan kebobrokan zaman. Menjadi alasan demi terciptanya musibah besar. Menjadi pembenaran untuk sebuah kemaksiatan. Saat senang ia diingat dan diagungkan. Ketika sedih, ia menjadi korban oleh pelaku yang merasa dianiaya oleh cinta.
Padahal cinta adalah indah, selalu indah. Cinta itu suci selalu suci dan hanya hadir pada saat yang suci. Penciptanya saja Maha Indah, Maha Suci. Lalu mengapa kemudian ciptaanNya menjadi tidak suci dan tidak indah hanya karena perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab??
Kalau melihat contoh yang “gagal”, bisa saja mengatakan seperti itu. Bisa saja saya, dia, kalian atau mereka adalah contoh yang gagal. Gagal yang berarti pernah merasakan cinta yang salah. Pernah menikmati gula-gula masa pacaran yang sejatinya gula-gula itu hanya semu. Tapi lebih baik gagal untuk menuju keberhasilan dibanding gagal dengan terus menerus dan merasa bahwa apa yang dijalani itu benar (meskipun sebenarnya tidak).
Cukup merasakan setitik pahitnya empedu dan berganti manisnya madu. Berarti kita memiliki lidah yang berfungsi secara normal. Namun jika empedu itu tetap terasa nikmat di lidah meskipun berkali-kali kita meludah namun tetap saja mengecapnya, Maka siapa yang perlu disalahkan? Apakah sebuah lidah yang hanya anggota tubuh ataukah kita yang menjadi panglimanya?
Lidah ibarat sebuah cinta. Maka bukan cinta itu yang salah tapi seseorang (entah siapa). Yang pasti jika ada cerita Romeo dan Juliet yang kisah cintanya berakhir tragis atau kisah cinta seorang cerdas yang bernama Qais kepada Laila hingga ia dijuluki Majnun (tidak waras), bukanlah cinta yang patut dipersalahkan. Sekali lagi bukan. Dan selamanya bukan.
Jika menilik keindahan cerita Rasulullah Muhammad dengan ibunda Khadijah, mungkin bisa kita jadikan tauladan. Cinta yang suci (karena Allah semata). Bukan cinta berdasarkan harta. Bukan cinta yang menyebabkan seseorang berubah dari raja menjadi budak. Bukan cinta yang melenakan hingga melalaikan hati. Cinta yang diawali dengan niat hanya karena Allah. Dan selanjutnya menjadi ibadah-ibadah yang tiada ternilai oleh dunia. Meskipun kisahnya terkadang tertutupi oleh kisah cinta imaji mengenai putri salju, Cinderella dan semacamnya yang sudah bisa merasakan “cinta” tanpa ada ikatan sebelumnya. Yakinlah itu hanya cerita fiktif dan kita hidup di dunia nyata.
Dalih cinta yang begitu beragam. Cerita cinta yang bertebaran. Jika tidak benar-benar menelaah, maka akan lebih banyak pembenaran pada cinta yang salah.
Oh cinta. Kau tak berwujud namun kau adalah impian setiap insan. Karena dengan cinta semua indah (cinta tanpa nafsu). Dengan cinta semua bermakna. Dunia damai dengan cinta. Cinta mampu mengubah keterpurukan menjadi timbunan semangat. Cinta mampu membuat kelemahan menjadi kekuatan.
Jangan melelahkan diri mencari cinta. Dekati saja dulu Sang Pembuat Cinta, Sang Pemilik Cinta. Biarkan Dia menghadiahkan kita cinta yang indah. Insya Allah.
Allahua’lam.
Oleh: kiptiah hasan
Senin, 17 September 2012
Ketika Aku Ingin Menikah...
Wahai Rabb semesta alam,
Ku ingin menikah atas perintahMu,
Sungguh ku sangat khawatir tak mampu menjalankan perintahMu
Tak berpijak nafsu atau kepentinganku, tapi tuk harap ridhaMu
Wahai Maha Penggerak hati,
Izinkanlah hati ini tunduk dalam biduk cinta keshalihan
Terpatri ikrar Ilahiyah dan tauhid
Jangan kau biarkan hatiku keras membatu karena nafsu
Terombang ambing atas cinta, harapan fana nan semu
Kini hatiku gelisah tak menentu ya Rabb
Air mata seolah tak terbendung karena khawatir akan fitnah
Takut akan kehancuran pribadiku karena godaan setan mengusik sepanjang waktu
Iman ini mulai rapuh dan ragu pada janjiMu
Ku sadari ya Rabb, saat ini pernikahan adalah ujian terbesarku
Orientasi dan kecintaan pada diriMu kini kau uji
Kau suguhkan harta, tahta, dan paras menarik semata
Ya Rabb lindungi dan mampukan diriku, untuk lolos ujianMu
Jangan gagalkan aku memperoleh ridhaMu ya Rabb
Kusadari begitu banyak pejuang yang gagal dalam ujian ini
Terbelenggu oleh duniawi dan kebahagiaan sesaat
Terjebak oleh nafsu dan romantika keruh
Melepaskan perjuangan hingga hilang hanyut dalam kenistaan cinta yang fana
Banyak cinta yang datang menghampiri dan aku resah ya Rabb
Ketika itu tak lahir dari syariatMu
Bukan dalam kerangka iman dan Islam
Bukan untukMu tapi hanya untukku
Ya Rabb, hanya padaMu aku berkeluh kesah
Karena hanya padaMu aku berlindung dan memohon
Tunjukilah jalan yang lurus dan benar ya Rabb
Jalan yang kau ridhai bukan jalan yang kau celakakan
Mampukan aku memenuhi perintahMu untuk menikah
Hindarkan dari kehancuran dan kehinaan
Kokohkan niat untuk melangkah dalam kesucian
Luluskan dalam menghadapi ujianMu…
Minggu, 16 September 2012
Buat Kamu Para Generasi Online
Sebagian besar manusia di dunia ini, mungkin nggak asing kalau dengar istilah “online”. Yeah, kegiatan yang melibatkan dunia maya ini terasa asyik banget terutama buat kamu- kamu para remaja. Seakan tiada hari tanpa online, bahkan kegiatan yang satu ini sudah seperti wajibnya kita makan dan atau melakukan kegiatan rutin harian lainnya.
Maka nggak berlebihan jika remaja saat ini, udah pasti bisa dibilang sebagai bagian dari “generasi online”. Memang sih, nggak ada yang salah dengan kegiatan menyenangkan satu itu, tapi melihat kenyataan yang banyak terjadi sekarang ini, sangat disayangkan bahwa karena mereka terlalu “rajin” online, kegiatan yang harusnya bisa dilakukan, dan sifatnya nggak bisa ditawar- tawar jadi amburadul nggak karuan.
Nggak jarang, mereka-mereka yang doyan online, lebih senang menyendiri, lebih suka bergaul dengan orang lain lewat online, daripada bertemu dengan sesamanya di dunia nyata saudara-saudara mereka sendiri. Mereka juga gampang galau alias gelisah, tapi kalau tentang meninggalkan sholat 5 waktu, rasanya enteng banget. Dan generasi online kebanyakan pada berfikir instant, maunya serba mudah dan suka mengahayal. Selain itu, mereka rawan terjangkit virus individual, bersikat apatis, arogan mudah marah dan mudah tersinggung, serta jadi individu yang sempit fikirannya.
Sudah saatnya kamu meluruskan niat online.
Memang nggak ada salahnya melakukan aktivitas online, selama hal itu berguna untuk perbaikan diri kamu. Tapi satu hal yang kudu kita ingat adalah, kalau online hanyalah sekedar alat, dan bukan tujuan. YUps, alat untuk perbaikan diri kamu supaya be better kedepannya. Sah- sah aja kamu online, tapi kamu kudu ingat kalau kamu punya teman, punya saudara, punya pergaulan di lingkungan loh. Kamu butuh bergaul dengan orang lain, bersilaturahim, saling mengunjungi, saling menyapa satu sama lain. Atau dalam arti lain, kamu kudu care sama lingkungan sekitar kamu.
Selain itu, jangan sampai dengan online kita gampang melakukan pemborosan waktu. Kalau dalam sehari kamu online 4 jam saja, maka dalam seminggu 28 jam kamu habiskan hanya untuk pemborosan uang terutama waktu.Kalau masalah uang sih masih bisa dicari, tapi kalau soal umur kamu, nggak akan mungkin kamu bisa tarik kembali. Ingat loh, hidup cuma sekali dan waktu muda kamu akan sangat cepat banget berlalu, seperti firman Allah subhanahu wata’ala dalam Al quran surat Annazi’at Ayat 46 : “pada hari mereka melihat berbangkit itu, merasa seakan tidak tinggal (didunia)melainkan sekejap saja diwaktu sore atau pagi hari.”
Jika kita nggak memanfaatkan baik- baik masa muda kita, dijamin kedepannya hanya penyesalan yang akan didapat.
So, jika kamu termasuk generasi online, ada baiknya melakukan kroscek sekali lagi, tentang kegiatan yang selama ini kamu lakukan.Dan pastikan bahwa online yang kamu lakukan hanyalah dalam rangka mencari ridho Allah, dan bukan sekedar pemborosan waktu dan uang.
(Nay Ma/Voa-Islam.com)
Selasa, 11 September 2012
The Jakmania dan Viking Persib Bentrok di Tokyo?
“Kijang 1.. Kijang 1.. Harap posisi siaga, ada serombongan The Jakmania memasuki area Festival Indonesia”, demikian suara Norman Effendi, diplomat senior KBRI Tokyo yang juga bertugas sebagai ketua pelaksana Festival Indonesia 2012, melalui radio komunikasi saat melihat serombongan anak-anak muda Indonesia beratribut oranye memasuki arena Festival Indonesia di Roppongi Midtown kemarin (9/9).
“Harap dipantau, di lapangan sudah berkumpul ratusan Baraya Viking atau Bobotoh Persib. Jangan sampai mereka bentrok!”, lanjut Norman mengingatkan petugas keamanan Festival. Saya melihat kekhawatiran di wajah Norman saat gerak rombongan The Jakmania, pendukung Tim sepak bola Persija Jakarta, mendekati ratusan Baraya Viking, pendukung Tim sepak bola Persib, yang sudah lebih dulu berada di tengah lapangan Roppongi Midtown.
Kekhawatiran Norman pastinya beralasan, karena selain keduanya adalah “musuh bebuyutan”, yang kerap kali terlibat bentrok di Indonesia, suasana Festival Indonesia juga kerap memanas. Tahun 2011 lalu, sempat terjadi sedikit ketegangan saat Festival Indonesia di Yoyogi Park. Saat itu ada orang Indonesia yang mabuk di tengah keramaian. Untung saja ia sempat diamankan sehingga acara berjalan lancar
Oleh karenanya, pihak KBRI Tokyo untuk tahun 2012 ini meningkatkan pengamanan Festival guna menghindari hal- hal yang tidak diinginkan. Kalau sampai terjadi kerusuhan pengunjung, bukan hanya memalukan KBRI Tokyo, tapi juga bangsa Indonesia. Festival Indonesia adalah sebuah ajang yang digagas KBRI Tokyo untuk menampilkan aneka seni budaya, musik, pameran kerajinan, serta kuliner Indonesia. Tak heran, setiap diadakan Festival Indonesia, ribuan orang Indonesia dari berbagai daerah di Jepang menyempatkan hadir. Mereka umumnya adalah mahasiswa, pekerja Indonesia (kenshusei), dan masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang, selain tentunya warga Jepang dan asing lainnya.
Detik-detik pertemuan supporter kedua tim sepakbola yang bermusuhan tersebut cukup menegangkan. Saat itu, sekumpulan baraya Viking berseragam kaos biru Persib berteriak-teriak menyanyikan yel-yel Persib. Tak lama kemudian, dari pinggir lapangan, masuk sekumpulan orang beratribut oranye, warna khas Tim Persija Jakarta.
Catatan pertemuan kedua supporter tim tersebut juga buruk. The Jak 100% Anti Viking, demikian pula sebaliknya.
Deretan kisah bentrok, yang kadang memakan korban jiwa, antara The Jak dan Viking menghiasi berita surat kabar.
Permusuhan Viking Persib dengan the Jakmania sempat berkembang pesat. Kedua pihak menebarkan kebencian dan mengeluarkan kaos serta lagu yang saling menghujat. Sikap ini makin meningkatkan kebencian sehingga justru beralih dari esensinya, yaitu mendukung tim sepakbola menjadi membenci
supporter lawan.
Komisi Disiplin PSSI telah mengeluarkan larangan akan hal-hal yang menimbulkan kebencian. Upaya damai juga telah dirintis berbagai pihak.
Namun di balik itu, permusuhan masih tersimpan. Latar belakang itulah yang menjadi kekhawatiran pihak panitia Festival Indonesia 2012 Tokyo. Oleh karenanya, hamper seluruh perhatian pengamanan siang itu diarahkan ke lapangan Midtown.
Akhirnya, saat yang dinanti terjadilah. Kedua supporter tim tersebut bertemu dan berhadap- hadapan di lapangan. Wajah petugas pengamanan tegang. Wajah para pendukung tim juga tegang.
Sesaat keduanya saling menatap. Kami, yang ada di pinggir lapangan cuma bias berharap. Tiba-tiba, satu orang dari anggota The Jak dan Baraya Viking keluar dan saling mendekati.
“Waduh duel nih”, sebagian orang saya dengar berkomentar. Para petugas pengamanan dari KBRI Tokyo juga sudah ambil ancang-ancang untuk berlari ke tengah lapangan apabila kemungkinan bentrok terjadi.
Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka malah berpelukan layaknya kawan lama yang tak bertemu. Ah, rupanya mereka berkawan.
“Aman pak, keduanya berteman!”, lapor seksi pengamanan melalui radio komunikasi pada Norman. Kedua pendukung tim tersebut kemudian berpisah mengambil tempat masing-masing di sisi panggung Festival Indonesia yang sore itu menampilkan Grup Band Kotak dari Indonesia. Saat Tantri, penyanyi Kotak, melantunkan lagunya, mereka semua sudah larut dalam lirik dan kebersamaan.
Pemandangan kedua tim yang akur di Tokyo tersebut cukup melegakan kita semua. Para pendukung Persib dan Persija di Jepang memang memiliki semacam komunitas “resmi” yang kerap berkumpul dan membuat aneka acara.
Di penutup acara, Dubes RI, M. Lutfi, dari atas panggung mengingatkan lagi akan kebersamaan kita sebagai bangsa. Di luar negeri, kebersamaan itu semakin terasa. Tak peduli ia Persib, tak peduli ia
The Jak, kita semua adalah Indonesia.
Mungkin sebagian besar dari mereka juga takut akan pengamanan dari Kepolisian Jepang. Kalau mereka macam- macam, risikonya dideportasi. Tapi nampaknya bukan itu saja alasan mereka. Byan, ketua komunitas The Jak di Japan berkata pada saya, “Tidak ada gunanya kita saling bentrok pak, kita semua bersaudara dan acara ini adalah Festival Indonesia. Kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia adalah negeri yang ramah”.
Aaaah, andai hal itu juga bisa terjadi di Indonesia. Salam
Sumber: kompasiana
Rabu, 30 Mei 2012
DUKA SEPAK BOLA
Rangga Cipta Nugraha tidak saja meninggalkan duka paling dalam bagi orang tua, adik, dan saudara-saudaranya. Kematian Rangga juga bukan hanya membuat Bobotoh berduka. Kematian Rangga adalah duka bagi sepak bola Indonesia. Rangga adalah Bobotoh Persib, satu dari tiga korban meninggal akibat aksi brutal penonton (Sepak Bola) pada saat Persib dijamu Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Minggu (27/5).
Bagi saya, kematian Rangga adalah imbas dari buruknya kinerja PSSI. Seandainya PSSI bisa profesional, misalnya dalam menjalankan roda kompetisi, tragedi yang menimpa Rangga tidak akan terjadi. Tidak adanya sanksi tegas terhadap pelaku kekerasan dan tindak unfairlainnya, baik di dalam maupun di luar lapangan, bukan hanya merusak fairplay dan sportivitas (dalam pertandingan) sepak bola .
Sekecil apapun tindak kekerasan, tak terkecuali dalam olah raga, telah menyuburkan bibit kekerasan bagi mereka yang datang ke stadion memang bukan untuk menyaksikan indahnya sebuah pertandingan. Sudah bukan rahasia lagi, Wasit kita jarang langsung mengeluarkan kartu merah bagi pemain yang melakukan pelanggaran paling brutal sekali pun. Wasit juga tidak berani mengusir pemain yang dengan nyata mendorong dan bahkan melakukan pemukulan terhadap dirinya.
Saya tidak mau menyebut wasit kita tidak punya nyali. Bahkan menurut saya wasit-wasit sepak bola di tanah air adalah orang-orang yang punya nyali besar karena berani berani memimpin pertandingan yang bisa saja mengancam keselamatan mereka. Ketika perangkat pertandingan seperti wasit terancam, pada titik ini kita pantas menanyakan peran dan kinerja PSSI. Karena sangat mungkin kekerasan yang tumbuh subur di dalam kompetisi sepak bola Indonesia, adalah buah dari tidak tegasnya PSSI dalam menerapkan aturan.
Di negara yang pengelolaan sepak bolanya sudah profesional, jangan harap pelaku kekerasan bisa berkeliaran bebas. Di Inggris misalnya, Dengan football Association-nya yang berwibawa itu, pelaku kekerasan yang merusak citra sepak bola akan dihukum seberat-beratnya. Pelaku kekerasan seperti yang dilakukan terhadap rangga, jangan harap akan bisa lagi masuk stadion. Pelaku kekerasan seperti apa yang dilakukan terhadap Rangga, akan dicekal seumur hidup.
Di Indonesia ketika pengurus PSSI lebih suka berseteru, kekerasan sepak bola jadi ancaman serius dan menakutkan yang bisa meledak jadi tragedi kapan saja.Ketika pengurus PSSI lebih suka berseteru dan melupakan apa-apa yang menjadi tugasnya, sepak bola Indonesia makin dekat ke tabir jurang kehancurannya. Pasalnya sangat mungkin FIFA segera mengetuk palu untuk memberi sanksi dan mencekal PSSI yang tak kunjung bisa profesional. ***
PENULIS: DENI AHMAD (Wartawan Tribun)
Jumat, 25 Mei 2012
Ekonomi RI Sudah Terjajah ?
“Saat ini Indonesia sudah terjajah secara ekonomi . Paling tidak ada empat indicator yang menunjukan Indonesia sudah terkolonialisasi, yaitu sumber buruh murah, eksploitasi sumber daya alam, tempat akumulasi modal, dan menjadi pasar produk asing”. Saat ini buruh Indonesia memiliki tingkat upah yang paling rendah di ASEAN. Berbagai Negara seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, apalagi Singapura, sudah di atas Indonesia.
“Oleh karena itu, sangatlah wajar jika buruh kita terus-menerus malakukan demonstrasi kenaikan upah. Dilihat dari struktur biaya, buruh Indonesia pun hanya mendapat alokasi yang sangat sedikit, yakni di bawah 10% dari total biaya, sedangkan rata-rata di Negara ASEAN biaya upah pekerja sudah mencapai 23% dari total biaya.”
Padahal, sebagai negara yang subur, sangat memungkinkan mendorong pertanian untuk meningkatkan produksi beras. Sejarah sudah membuktikan Indonesia pernah mampu menjadi negara pengekspor beras. Masalah paling mendasar yang harus diperhatikan para pemuda dan calon-calon pemimpin adalah terdiktenya bangsa kita seolah-olah hanya bisa menjadi bangsa konsumen. Padahal , sebenarnya bangsa Indonesia sangat bisa untuk menjadi bangsa produsen dalam bidang apapun.
Contohnya dalam pembuatan produk yang paling rumit seperti pesawat terbang yang memiliki 68.000 komponen, Indonesia sudah bisa sejak 10 tahun lalu. Artinya produk semacam mobil nasional (mobil canggih hanya memiliki 15.000-20.000 komponen), di pastikan mampu diproduksi Indonesia.
Coba kita simak,,
Aqua? (74% sahamnya milik Danone prsh Perancis) atau Teh Sariwangi (100% saham milik Unilever Inggris. Minum susu SGM (milik Sari Husada yg 82% sahamnya dikuasai Numico Belanda).
Lalu mandi pake Lux dan Pepsodent (Unilever, Inggris). Sarapan berasnya beras impor Thailand (BULOG pun impor), gulanya jg impor (Gulaku). Santai abis makan rokoknya Sampoerna ( 97% saham milik Philip Morris Amerika). Keluar rumah naik motor/mobil buatan Jepang, Cina, India, Eropa tinggal pilih.
Sampe kantor nyalain AC buatan Jepang, Korea, Cina. Pake komputer, hp (operator Indosat, XL, Telkomsel smwnya milik asing; Qatar, Singapur, Malaysia). Yuk belanja ke Carefour, punya Perancis klo gitu ke Alfamart (75% sahamnya Carefour). Bgmn dg Giant? Ini punya Dairy Farm Internasional, Malaysia pemilik yg sm dg Hero.
Malam2 iseng ke Circle K dari Amerika. Ambil ATM di BCA, Danamon, BII, Bank Niaga ah semuanya udh milik asing walaupun namanya msh Indonesia. Bangun rmh pake semen Tiga Roda Indocement skrg milik Heidelberg Jerman (61,70%). Semen Gresik milik Cemex Meksiko, Semen Cibinong punyanya Holcim (Swiss). Masih banyak lagi kalo mau diterusin. Btw BB andapun buatan Cina, beda tipis sm sy punya buatan Canada.
Sadarkah Indonesia saat ini sedang terjajah? Bahkan untuk hidup di negeri ini pun sulit.
Tenang, Minimal kita masih punya koruptor2 Asli Indonesia!!!
Mantap kann!!!
Sumber: baca sana-sini, koran, majalah, BC dari BBM de el el.
Sabtu, 12 Mei 2012
The Moral Behind of the Story
tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi,
tak harap kembali.
Bagaikan surya menyinari DUNIA.
Mari kita untuk selalu mengheningkan cipta mengenang jasa dan cinta kasih ibu. Entah sejak umur berapa kita mengenal nyanyian tersebut dan tak pernah lupa, bahkan hingga hari ini, sekali-sekali kita masih saja menyanyikan kembali lagu itu. Baitnya pendek, rangkaian kata-katanya simpel, namun kandungan maknanya teramat dalam, sehingga kadang kala air mata menetes setiap menyanyikannya, meski hanya untuk diri sendiri.
Sosok seorang ibu memiliki kualitas agung. Padanya melekat sifat kasih ilahi yang tak pernah padam. Bahkan sejak kita semua sebelum terlahir ke dunia ini, tinggal dalam garba surgawi yang disebut alam rahim ibu, yang sesungguhnya kata "rahim" merupakan salah satu asma Allah. Ini secara jelas menunjukan keterkaitan kualitas yang amat dalam dan lembut sekali, bahwa sebagian kasih Allah itu terpancar ke dunia melalui sosok ibu sebagai transmiternya, yang dalam istilah tasawuf disebut "tajally ilahi". Bahwa seorang ibu senantiasa memancarkan keindahan dan kasih ilahi, bagaikan surya menyinari dunia, yang selalu memberi, tak mengharapkan imbalan kembali.
Selasa, 01 Mei 2012
Fenomena Bahasa Gaul
Fenomena bahasa gaul yang tengah popular saat ini, setelah marak dengan bahasa-bahasa alay, dan fenomena “galau” – kini gempar dengan maraknya istilah “kamseupay”. Sama seperti bahasa-bahasa ala remaja sebelumnya, istilah “kamseupay” inipun berhasil meramaikan situs-situs jejaring sosial yang tengah digandrungi masyarakat, terlebih para remaja seperti facebook dan twitter.
Begitu pula ketika istilah ‘kamseupay’ menyeruak, semua orang seolah berbondong-bondong meng’update’ status dengan istilah tersebut. Bahkan, walaupun sebenarnya menyimpang dari arti sebenarnya, jika arti sebenarnya bermakna sebuah ungkapan untuk menyatakan seseorang kampungan, kini tidak lagi sebatas digunakan untuk itu. Mereka yang sedang kesal, bermasalah dengan orang lain, bahkan tengah ‘galau’, seringkali juga menggunakan ‘kamseupay’ untuk mengungkapkan kekesalan yang mendera batinnya. Itu berarti, istilah ‘kamseupay’ kian menyemarakkan fenomena ‘galau’ media sosial.
Jumat, 30 Maret 2012
Drago Sudah Berniat Mundur Saat Lawan Arema
Pada saat itu, Drago mengaku kondisi yang ia rasakan sudah sangat tidak nyaman lagi. "Saat itu, semua tekanan ini sudah membuat saya kecewa. Dan saya berniat mengundurkan diri setelah melawan Arema," katanya ketika ditemui "PRLM" di apartemennya, Bandung.
Namun, saat itu ia akhirnya memutuskan mengurungkan dulu niatnya untuk mundur. Pelatih asal kroasia itu merasa saat itu bukanlah saat yang tepat. "Apalagi, tim juga sedang merayakan kemenangan atas Arema. Dan saya pikir saat ini di akhir putaran pertama adalah waktu yang tepat," tuturnya.
Drago mengundurkan diri dengan menyerahkan surat pernyataan resmi kepada manajemen pada Rabu (28/3) lalu. (A-197/A-147)***
Selasa, 03 Januari 2012
Rabu, 23 Februari 2011
Wajib Berbahasa Sunda tak Diikuti Sanksi
Urgensi penggunaan bahasa ibu khususnya bahasa Sunda, terutama dikalangan anak muda kembali disampaikan banyak pihak, seiring dengan peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional setiap 21 Februari. “Tidak ada sanksi khusus pada sekolah jika tidak melaksanakan program tersebut. Kami hanya berusaha mengarahkan untuk kesadaran mereka menggunakan bahasa Sunda sebagai upaya melestarikannya, “kata Oji yang dihubungi Selasa (22/2).
Oji mengaku, program ini berjalan cukup efektif karena dimulai dari obrolan di ruang guru, pengantar di kelas, serta di lingkungan sekitar sekolah. Walaupun untuk obrolan antarsiswa masih ada campuran penggunaan dengan bahasa Indonesia. Akan tetapi, hal ini dimaklumi karena latar belakang tiap siswa berbeda-beda.
“Harus diakui, jam pelajaran bahasa Sunda di kelas masih sangat kurang, yaitu hanya dua jam setiap minggunya. Padahal, mata pelajaran ini setara dengan pelajaran yang lain dan di ujian sekolahan sebagai salah satu penentu kelulusan,” tutur Oji. Untuk itulah, program wajib satu hari berbahasa Sunda digalakan sebagai muatan lokaldi sekolah, selain mata pelajaran di kelas.
Sementara itu, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMP Kota Bandung, Nandy Supriyadi mengatakan, sekolah sangat mendukung program ini, tetapi sekarang memang perlu diingatkan kembali. Menurut Nandy, sejak program ini dilaksanakan pada 1999 lalu, sekolah sudah berupaya maksimal untuk terus melaksanakannya setiap Rabu. “Sanksi khusus memang tidak ada, tetapi antara guru dan siswa saling mengingatkan. Harus ada kesadaran di masing-masing individu untuk sama-sama melestarikan bahasa Sunda, “ucap Nandy.
Ia mengungkapkan, ujung tombak dari program ini adalah guru bahasa Sunda di sekolah. Kontribusi mereka sangat besar dan menjadi panutan bagi guru lain serta para siswa untuk menekankan betapa pentingnya bahasa Sunda. (A.187)*** Bandung(PR), 23 Februari 2011.
Rabu, 27 Oktober 2010
Musibah & Bala Bencana Adalah Teguran Dari Allah
Gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya, adalah salah satu bukti kekuasaan Allah atas semua makhluk ciptaan Nya. Sekaligus juga bukti betapa tidak berdayanya makhluk terhadap Sang pencipta, yaitu Allah swt.
Bencana-bencana semua itu janganlah dianggap sebagai kemurkaan Allah kepada makhluknya semata. Melainkan hendaklah dimaknai sebagai peringatan atas kesalahan dan kelalaian yang sering kita perbuat, agar tidak terus menerus terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Berarti Allah masih sayang sama kita, kalau tidak sayang pasti kita tidak akan diperingatkan.
Barangkali kita semua sudah paham, bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah sudah menjadi ketetapan Allah. Dan tidak ada satu cara atau kekuatan apapun yang sanggup untuk menolak ketetapan Allah tersebut kecuali hanya dengan doa. Sebagaimana sabda rasululloh :
“ Sesungguhnya doa itu memberi manfaat kepada yang telah diturunkan dan kepada yang belum diturunkan. Dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan Allah, melainkan doa. Karena itu, berdoalah kamu semua” (hadits Riwayat Turmudzi).
Karena itu tentu suatu perbuatan baik dan terpuji bila kita selalu membiasakan diri berdoa memohon kepada Allah swt agar diselamatkan dari berbagai musibah dan bencana yang akan menimpa umat manusia.
Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa manusia, khususnya negeri ini, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa mereka kepada Allah Swt dan RasulNya dalam merespon dakwah para Nabi dan Rasul-rasul Allah Swt. Selain itu mereka juga mendustakan ayat-ayat Allah, mengkufuri nikmat-nikmatNya dan menukarkan kenikmatan itu dengan kekafiran, serta para penguasa dan pembesar-pembesarnya menukar hukum Allah dengan hukum jahiliyah dan kecenderungan masyarakat memilih serta mengikuti tradisi nenek moyang dengan ajaran sesatnya yang bertolak belakang dari hidayah dan Sunnah Rasulullah Saw.
Sabtu, 20 Februari 2010
Penutur Bahasa Sunda Turun 20 Persen
Jumlah penutur dan masyarakat yang menguasai bahasa Sunda di Jawa Barat cenderung mengalami penurunan hingga dua puluh persen dari satu generasi ke generasi lain.
Survey yang dilakukan Balai Bahasa Bandung beberapa waktu lalu menunjukkan dari 850 responden pasangan suami istri, hanya 754 pasangan yang bisa berbahasa Sunda. Dari pasangan yang bisa berbahasa Sunda tersebut, ternyata hanya lahir 565 anak yang juga bisa berbahasa Sunda.
Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung Muh. Abdul Khak, kondisi ini tidak menutup kemungkinan terjadinya pergeseran kelestarian bahasa Sunda sebagai bahasa ibu di ranah Pasundan. “Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin bahasa Sunda juga bisa punah seperti beberapa bahasa daerah lain di Papua,” ujarnya dalam pembukaan Seminar Internasional Hari Bahasa Ibu di Gedung Merdeka, Bandung, Jumat (19/2).
Senada dengan Abdul, perwakilan Pusat Bahasa, Yeyen Maryani menuturkan, bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh anak dari sang ibu. Di Indonesia, dengan beragam perbedaan budaya. “Oleh karena itu, kelestarian bahasa daerah di Indonesia sudah pasti bermula dari ibu, khususnya dan orang tua umumnya,” ujarnya.
Yeyen menyebutkan, menurut survei Pusat Bahasa, saat ini ada sekitar 462 bahasa daerah yang berkembang di Indonesia. “Ini belum ditambah beberapa daerah yang belum terdeteksi, saya mendapat informasi bahwa secara keseluruhan bahasa daerah di Indonesia bisa mencapai 746,” ucapnya.
Peran orang tua, menurut Yeyen, sangat kuat dalam pelestarian bahasa daerah. Pasalnya, pemerintah hanya bisa berpegang pada garis kebijakan yang ada, yaitu UUD 1945, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, dan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.
Respon Kurang baik.
Dalam praktiknya, Yeyen mengakui, masih ada beberapa hambatan yang dihadapi pemerintah dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah. “Yang paling utama adalah respons pemerintah daerah yang tidak semuanya baik dan kurangnya kerja sama antar instansi terkait, serta belum cukupnya jumlah pakar untuk setiap bahasa daerah yang ada,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jabar Netty Prasetiyani Heryawan mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah menunjukan keberpihakannya terhadap pelestarian bahasa daerah. “Kita punya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2008. Ini adalah komitmen pemprov untuk pelestarian bahasa Sunda dan beberapa bahasa daerah lain di Wilayah Jabar,” ujarnya.
Kendati demikian, Netty menyadari, perda yang ada tidak akan efektif tanpa bantuan ibu sebagai guru pertama dan utama bagi anak. “Bagaimanapun, ibu adalah orang pertama dan terdekat, sebagai pendidik utama dan teladan bagi anak. Termasuk dalam pengajaran bahasa daerah,” ujarnya.
Menurut Netty, ada beberapa hal yang bisa dilakukan seorang ibu dalam pengajaran bahasa Sunda kepada anak mereka. “Bahasa Sunda harus jadi bahasa utama dalam interaksi dengan anak, mengajarkan Bahasa Sunda lewat kesenian seperti lagu-lagu Sunda agar anak merasa lebih nyaman dan termotivasi, menceritakan kisah-kisah perjuangan pahlawan Sunda, mengajak anak mengunjungi pusat kebudayaan, dan menginteraksikan anak ke dalam paguyuban-paguyuban Sunda,” katanya. (A-178)***
Di kutip : Dari Harian Pikiran Rakyat Sabtu(wage) 20 Februari 2010
Rabu, 06 Januari 2010
Rabu, 28 Oktober 2009
MEMIMPIKAN MODA TRANSPORTASI IDAMAN
"Penumpang beus Trans Metro Bandung, sakedap deui dugi ka selter Samsat, mugi siap-siap kanggo nu bade turun... Hatur nuhun...."
Begitulah suara lembut seorang mojang Bandung mengingatkan para penumpang TMB (Trans Metro Bandung). Ini cuma "khayalan" saat kali pertama "PR" mencoba naik bus TMB, beberapa waktu lalu. Jadi, jangan dibayangkan pemberitahuan dalam bahasa Indonesia dan Inggris seperti yang ada di Bus Way di Jakarta itu ada di TMB dalam versi bahasa daerah.
Pembelian tiket TMB seharga Rp 3.000,00 (umum) dan Rp 1.500,00 (pelajar/mahasiswa) untuk sekali jalan itu hanya serupa karcis biasa, bukan tiket yang mirip kartu kredit. Juga tak ada loket khusus untuk penjualan tiket. Hanya ada petugas penjual tiket merangkap pengontrol kedatangan bus dengan menggunakan HT (handy talky). Mulai dari Cibiru sampai Cibeureum (Jln. Elang).
"Akan tetapi, lumayanlah, daripada naik angkot yang suka banyak ngetem," kata Ny. Emy (42), warga Jln. Parabon yang naik TMB dari selter depan Kantor Samsat dan turun di Pasar Induk Caringin.
Hal senada disampaikan Dian (19), seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta. Dia naik di selter Margahayu. "Kebetulan, selter bus TMB tepat di depan kampus," katanya.
Fasilitas bus sumbangan Departemen Perhubungan ini cukup memadai untuk merintis moda angkutan massal bagi masyarakat. Selain dilengkapi AC, dua pintu keluar atau masuk, juga dilengkapi alat pengamanan pintu darurat dan palu untuk memecahkan kaca jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan. Bus TMB juga dilengkapi tempat sampah, tirai, dan sandaran kursi ditutupi kain.
Tempat duduk yang tersedia di bus TMB hanya tujuh belas kursi. Sementara gantungan bagi penumpang yang tak kebagian duduk, di sebelah kiri dan kanan berjumlah 36 buah. Jadi, daya angkut bus TMB maksimal 53 penumpang.
Bus TMB yang mulai dioperasikan sejak pertengahan September lalu itu ternyata mulai banyak diminati penumpang. "Malahan, banyak penumpang yang tak terangkut dan tak sabar menunggu bus berikutnya, mengembalikan lagi tiketnya," kata salah seorang petugas penjual tiket.
Sayangnya, jumlah selter terasa kurang bagi kebutuhan penumpang. (Ahmad Yusuf/"PR")***
Senin, 12 Oktober 2009
Indonesia Negara Perokok Terbesar Se-ASEAN
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, F.A Moeloek mengatakan, Indonesia merupakan negara perokok terbesar di lingkungan negara-negara ASEAN.
"Hal itu berdasarkan data dari The ASEAN Tobacco Control Report tahun 2007. "The ASEAN Tobacco Control Report Card tahun 2007 menyebutkan jumlah perokok di ASEAN mencapai 124.691 juta orang dan Indonesia menyumbang perokok terbesar, yakni, 57.563 juta orang atau sekitar 46,16 persen," ungkapnya dalam jumpa pers di Gedung Kebangkitan Nasional Stovia, Jakarta, Minggu (11/10).
Menurutnya, pada tahun 2008 Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Indonesia sebagai negara terbesar ke tiga sebagai pengguna rokok. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia pun, menurutnya, mengalami ketidak berdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok. "Dan kematian akibat konsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun," ujarnya.
Prevalensi perokok di Indonesia kian hari semakin meningkat dan memprihatinkan. Menurut data yang diperoleh Kompas.com, peningkatan tertinggi perokok di Indonesia terjadi pada kelompok remaja umur 15-19 tahun, yaitu, dari 7,1 persen pada tahun 1995 menjadi 17,3 persen pada tahun 2004, atau naik 144 persen selama 9 tahun.
Tak hanya itu, konsumsi rokok di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 240 miliar batang atau setara dengan 658 juta batang rokok perhari-nya yang berarti uang senilai Rp 330 miliar 'dibakar' oleh para perokok di Indonesia dalam satu harinya. Bahkan menurut data Susenas 2006 menunjukan bahwa pengeluaran untuk membeli rokok adalah 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu (2,3 persen), 2 kali lipat pengeluaran untuk ikan (6,8 persen), dam 17 kali lipat pengeluaran membeli daging (0,7 persen).